fbpx
Tantangan dan Peran Santri di Era Milineal

Tantangan dan Peran Santri di Era Milineal

Oleh: Hapidin

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Santri merupakan istilah bagi sekelompok orang yang sedang menempuh pendidikan selama di pesantren khususnya mempelajari kitab-kitab agama Islam di lembaga pendidikan yang dikenal dengan pesantren biasanya sebelum mempelajari keilmuan mereka dilatih dari segi karakter atau akhlak, kemudian ditanamkan keimanan dan barulah mendalami ilmu-ilmu khususnya agama islam.

Perananan santri begitu besar bagi kemerdekaan Indonesia, perjuangan mereka mampu melepaskan indonesia dari para negara kolonial Belanda. Karena bangsa ini mayoritas beragama islam, sangat wajar jika umat islam, khususnya para santri melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda yang telah menguras kekayaan bumi Nusantara.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro yang notebene berasal dari kaum santri, berani memandu perang melawan imperialis Balanda, yang sudah menjajah bangsa ini selama ratusan tahun. Pasukan Pangeran Diponegoro ini adalah para santri Kyai Maja. Kyai Maja tidak hanya menggerakkan dan melatih santri di pesantrennya, tapi juga di berbagai pesantren lainnya untuk melawan kolonialisme Belanda.

Perjuangan dan pengorbanan mereka sangatlah besar sehingga atas pertolongan dari Yang MahaPenolong, hingga pada akhirnya kemerdekaan indonesia bisa di raih.

Kini santri merupakan sosok yang diharapkan oleh masyarakat sekitarnya khususnya dan sebagai agen perubahan agen of change  terutama dalam kemajuan moral dan intelektual masyarakat.

Terbukti bahwa, Banyak sekali ilmuan-ilmuan terlahir dari kalangan santri diantara yang termasyhur karena penemuannya yang istimewa. Ilmu kedokteran yaitu Ibnu sina, ilmu matimatika penemuan al-khowarijm, al-jabar dan masih banyak lagi.

Seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi, santri tidak cukup jika hanya menguasai bidang keagamaan saja melainkan harus bisa menjadi generasi yang intelek, tangguh dan kuat untuk memberantas segala berbagai tindak kejahatan ataupun kecurangan yang kini kian bermunculan khususnya di Indonesia. Mulai dari lingkungan masyarakat sosial, perekonomian, dan politik agar kemerdekaan indonesia terjaga.

Kemerdekaan Bangsa ini, memang tidak bisa lepas dari peranan penting para ulama dan santri, Tercatat banyak santri dan ulama telah mengorbankan tenaga dan pikiran untuk mengusir penjajah dari bumi nusantara.

Penjajahan di era milenial ini tidak hanya lagi bersifat fisik, melainkan penjajahan paham-paham barat yang bertujuan untuk memecah belah umat dan mengahancurkan kerukunan dalam berbangsa dan bernegara. Hal ini berhubungan dengan kemajuan dan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Maka,

Seorang santri harus bisa melakukan perubahan perubahan, kemampuan beradaptasi dan ikut serta mengawal ke-indonesia-an, dan terlibat memerangi gerakan-gerakan trans nasional yang mengancam ideologi negara, tidak berhenti disitu, santri dituntut untuk memiliki intelektual yang luas, yang bisa menggabungkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Hal itu merupakan tantangan baru bagi kaum santri yang dulunya santri mempunyai tantangan melawan kolonial Belanda, tetapi sekarang tantangan santri sudah semakin kompleks, santri harus bisa mempersiapkan melawam penjajah yang sudah berbeda bentuk dari zaman dulu.1

Di era sekarang tantangan santri sangat berbeda, dengan kemajuan zaman dan perkembangan  globalisasi. Di samping menekuni kajian keagamaan yang sangat kental, seperti kajian kitab kuning, moral, tata krama, tawadhu’ kepada masayikh, santri harus mengimbanginya dengan kemampuan intelektualnya. Yaitu dengan mengkolaborasikan pendidikan agama dengan pendidikan umum. Karenanya, jika santri hanya mengandalkan ilmu din (ilmu agama), akan sulit untuk bersaing di era globalisasi.

Era milineal lebih berkiblat kepada kehidupan barat, sangat bertolak belakang dengan kehidupan di kalangan pesantren yang fokus garapannya di bidang spiritual, itulah menjadi tugas dan tantangan santri dalam menjalani kehidupan beragama berbangsa dan bernegara.

Tantangan dalam bernegara mulai ramai di dengungkan mengenai paham-paham yang  bercorak islam-radikalisme dengan membawa visi untuk mengubah dasar negara menjadi ideologi yang murni dari Islam. Dasar negara yang sudah menjadi kesepakatan semua warga negara (pancasila) di anggapnya  tidak relevan lagi dibuat sebagai landasan bernegara. apalagi mereka (paham radikalisme) menganggap sudah waktunya negara yang mayoritas menganut agama islam, maka seyogyanya harus menggunakan islam sebagai landasan bernegara.

Menjadi santri era milineal memang berat, kalau santri zaman old, hanya berbekal ta’dzim kepada kiainya, mereka banyak menjadi “orang”. “Mestinya kita berkaca kepada santri jaman ‘old’. Akhlak adalah hal paling utama dalam segala hal. Setelah itu barulah berilmu, dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya”.2

Maka, sebagai santri tidak hanya memberikan nasihat kepada orang lain dan tidak menjalankannya. Nasihat itu lah yang mesti diterapkan terlebih dahulu kepada diri pribadi. Ini lah sebuah tantangan bagi santri.

Seorang politikus Muhaimin Iskandar  mengutarakan bahwa “sudah saatnya Santri memimpin kemajuan dalam bernegara”.2 Dalam merefleksikan hari santri  pemerintah menetapkan untuk meperingati setiap tahun pada tanggal 22 Oktober, sebagai Hari Santri Nasional. Pertanyaannya sudahkah seseorang yang menganggap dirinya Santri mengamalkan tantangan yang berada didalam kehidupan sehari-hari?

Akhir kata Irfai Moeslim, khodim Ma’had Asrarur Rafiah Babakan berpendapat,

“Rasanya, sebagai santri yang intelek, intelek yang santri mesti harus membawa perubahan itu di dalam masyarakat, sedikit demi sedikit dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, yang bisa dijadikan panutan, karena menasehati dengan perilaku sendiri rasanya lebih ampuh dan meresap di dalam hati seseorang, ketimbang hanya menasehati tetapi hanya sebatas hanya di mulut dan kerongkongan belaka”.2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *