fbpx
Sejarah Kelahiran Rasulullah dan  Perayaan Maulid Nabi Muhamad Salallahu’alaihi wassalam

Sejarah Kelahiran Rasulullah dan Perayaan Maulid Nabi Muhamad Salallahu’alaihi wassalam

Oleh: Hapidin (Santri Akademi Guru)

Umat Islam memperingati Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap tanggal 12 Rabiul Awal yang kali ini bertepatan dengan Sabtu, 9 November 2019. Sejarah Maulid Nabi merupakan perjalanan penting dalam kehidupan Rasulullah dan juga agama Islam.

Nabi Muhammad lahir dari ibu bernama Aminah dan ayah bernama Abdullah. Menurut riwayat, Nabi Muhammad lahir di Makkah pada hari Senin, 12 Rabiul Awal pada tahun pertama sejak peristiwa tentara bergajah atau Amul Fiil atau tahun 571 kalender Romawi. Pendapat lain juga menyebut Nabi lahir pada 9 Rabiul Awal. Namun, pendapat yang terkenal adalah pada 12 Rabiul Awal. Hal ini sesuai dengan Hadis Riwayat Muslim.

“Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab, hari Senin adalah hari aku dilahirkan,” bunyi Hadis Riwayat Muslim, dikutip dari buku Sejarah Hidup Nabi Muhammad karya Abdul Somad.

Saat NabiMuhammad lahir, diriwayatkan Ibnu Sa’ad Ahmad ibn Hanbal Darini, cahaya menerangi istana-istana di Rum. Nama Muhammad diberikan oleh sang kakek Abdul Mutalib, pemegang kunci Kakbah. Abdul Mutalib membawa Muhammad masuk ke dalam Kakbah, lalu seekor kambing disembelih sebagai bentuk akikah.

Dikuti dari buku Intisari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hazm al-Andalusi, Nabi Muhammad tumbuh sebagai seorang yatim. Ayahnya meninggal saat belum genap berusia 3 tahun. Saat Nabi lahir, tak ada yang mau menyusuinya karena tergolong miskin. Namun, seorang ibu bernama Halimah Sa’diyah dengan ikhlas mau menyusui Muhammad meski ASI-nya sulit keluar.

Keikhlasan Halimah pun diberi balasan oleh Allah Swt. Keledai kurus milik Halimah menjadi berisi dan ASI-nya kembali lancar. Ustaz Yusuf Mansyur memaknai salah satu kisah dalam Sejarah Maulid Nabi ini dengan, siapa pun yang dekat kepada Nabi Muhammad akan diberi kelancaran mengarungi kehidupan. Dari kisah ini, dapat diambil hikmah bahwa siapa saja yang dekat dengan Nabi akan diberi kemudahan, rezeki ngalir terus.

Saat anak-anak dan masa remaja, tanda-tanda kenabian Muhammad sudah terlihat. Misalnya, seperti malaikat Jibril yang membelah dada dan mencuci jantung Nabi. Saat masa remaja ketika pergi berdagang, seorang pendeta Bahira juga melihat tanda kerasulan Muhammad.

Nabi Muhammad lalu menerima wahyu pertama pada saat berusia 40 tahun di Gua Hira. Nabi memiliki empat sifat yakni benar, dapat dipercaya, menyampaikan, dan cerdas. Rasulullah meninggal dalam usia 63 tahun pada hari Senin di bulan Rabiul Awal. Nabi Meninggal setelah sakit selama 12 hari.

Sejarah Maulid Nabi atau Kelahiran Nabi dapat dijadikan momentum untuk mendekatkan diri kepada Rasulullah dengan meneladani kisah dan sifat-sifat Rasulullah. Lalu seperti apa perayaan Maulid Nabi Muhammad Salallahu’alaihiwassalam, apa hukum memperingati maulid nabi. Pembahasan mengenai hal itu akan penulis jelaskan dalam uraian berikut

  1. Hukum Memperingati Maulid nabi Muhammad Salallahu’alaihi wassalam,

Di indonesia khususnya banyak sekali masyarakat yang merayakan kelahiran Nabi Muhammad Salallahu’alaihiwassalam, Hukum perayaan maulid Nabi:

Sebenarnya, dengan mengetahui asal muasal perayaan maulid yang dibuat oleh sebuah kelompok sesat tidak perlu lagi dijelaskan tentang hukumnya. Karena saya yakin bahwa seorang muslim yang taat pasti tidak akan mau ikut merayakan perhelatan sesat ini.

Akan tetapi mengingat bahwa sebagian orang masih ragu akan kesesatan perhelatan ini maka dipandang perlu menjelaskan beberapa dalil (argumen) yang menyatakan haram hukumnya merayakan hari maulid Nabi shallallahu `alaihi wasallam.

Diantara dalilnya:

  1. Allah taala berfirman:

…  ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ  ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلٰمَ دِينًا  ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ  ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيم

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Q.S. Al Maidah: 3 ).

Ayat di atas menjelaskan bahwa agama islam telah sempurna tidak boleh ditambah dan dikurangi, maka orang yang mengadakan perayaan maulid Nabi yang dibuat setelah rasulullah shallallahu `alaihi wasallam wafat, berarti perayaan maulid nabi jelas menetang ayat ini dan menganggap agama belum sempurna masih perlu ditambah. Maka Sungguh peringatan maulid bertentangan dengan ayat di atas.

  1. Hadist Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam

Hadist 1

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

 

Hadits 2

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Hadits 3

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

Selengkapnya di: https://muslim.or.id/11456-hadits-hadits-tentang-bidah.html

Hindarilah amalan yang tidak ku contohkan (bid`ah), karena setiap bid`ah menyesatkan”. HR. Abu Daud dan Tarmizi.

Peringatan maulid Nabi tidak pernah dicontohkan Nabi, berarti itu adalah bi’dah, dan setiap bi’dah adalah sesat, berarti maulid peringatan Nabi adalah perbuatan sesat. Ketiga hadist di atas menjelaskan bahwa setiap perbuatan yang tidak dicontoh Nabi tidak akan diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, dan peringatan maulid Nabi tidak dicontohkan oleh Nabi berarti peringatan maulid Nabi tidak diterima dan ditolak.

            Dari Ibn Umar beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Dawud, hasan)

Tradisi peringatan hari lahir Nabi Muhammad meniru tradisi kaum Nasrani merayakan hari kelahiran Al Masih (disebut dengan hari natal) , maka orang yang melakukan peringatan hari kelahiran Nabi bagaikan bagian dari kaum Nasrani -wal’iyazubillah-. Hal ini selaras demngan hadist

Peringatan maulid Nabi sering kita dengar dari para penganjurnya bahwa itu adalah perwujudan dari rasa cinta kepada Nabi. Saya tidak habis pikir bagaimana orang yang mengungkapkan rasa cintanya kepada Nabi dengan dengan cara melanggar perintahnya, karena Nabi telah melarang umatnya berbuat bidah. Ini laksana ungkapkan oleh seorang penyair:

Jikalau cintamu kepadanya tulus murni, niscaya engkau akan mentaatinya. Karena sesungguhnya orang yang mencintai akan patuh terhadap orang yang dicintainya

  1. Orang yang mengadakan perayaan maulid Nabi yang tidak pernah diajarkan

Nabi sesungguhnya dia telah menuduh Nabi telah berkhianat dan tidak menyampaikan seluruh risalah yang diembannya. Imam Malik berkata,”orang yang membuat suatu bidah dan dia menganggapnya adalah suatu perbuatan baik, pada hakikatnya dia telah menuduh Nabi berkhianat tidak menyampaikan risalah. Setelah             membaca artikel ini, berdoalah kepada Allah agar diberi hidayah untuk bisa menerima kebenaran dan diberi kekuatan untuk dapat mengamalkannya dan jangan terpedaya dengan banyaknya orang yang melakukannya seperti firman Allah:

Allah SWT berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِى الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ  ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (Q.S. Al An’aam: 116 ).

Referensi: Makalah Sejarah Maulid, hukum dan pendapat ulama terhadapnya karya Nashir Moh. Al Hanin dan sumber lain.

Mengabdi untuk Penghafal Qur’an

Mengabdi untuk Penghafal Qur’an

Oleh: Yusi Qori Safitri (Asatidzah)

Kenikmatan memang bisa dirasakan oleh semua orang dengan cara yang berbeda beda, begitupun dengan kenikmatan yang saya rasakan selama mengajar di Pesantren Yadul Ulya ini saya merasakan kenikmatan yang luar biasa pada saat mengajar dan melihat anak didik mampu membaca al-Quran dengan baik, merasakan kenikmatan saat bersiap siap mengajar, membawa perlengkapan materi, dan mengajarkan mereka dengan metode yang di senanginya yaitu metode Kauny, saya juga sedikit lebih tau bagaimana caranya menghadapi anak dengan berbagai karakter yang berbeda beda dan setidaknya saya bisa membantu mereka para penghafal al-Quran kesayangan Allah untuk meraih cita cita dan mimpi mereka untuk menjadi penghafal al-Quran.

 Tidak hanya itu dalam mengajar tak selamanya selalu bahagia dan semangat, pasti semua orang akan merasakan menurunnya semangat juang apalagi kalo sudah terikat dengan kesibukan yang lain, tak jarang saya sering tidak bisa mengatur waktu mengajar dengan kesibukan yang lain. Tetapi menurut saya Al-Quran menjadi solusi dari segala permasalahan tersebut, semakin lama kita berinteraksi dengan al-Quran maka Allah akan memudahkan segala urusan yang kita hadapi dalam hidup, apalagi kalo Ikhlas dalam mempelajarinya. Menurut saya al-Quran itu seperti seorang sahabat, semakin lama persahabatan berlangsung semakin kamu akan tau rahasiannya, karena seorang teman tidak akan mengungkapkan rahasianya kepada seseorang yang duduk bersamanya hanya selama beberapa menit dan kemudian pergi.

Pelaksanaan Program diklatsar (Pendidikan dan Latihan Search dan rescue’) Guru Kuttab Yadul ‘Ulya kolaborasi bersama DT Peduli Garut

Pelaksanaan Program diklatsar (Pendidikan dan Latihan Search dan rescue’) Guru Kuttab Yadul ‘Ulya kolaborasi bersama DT Peduli Garut

Oleh: Hapidin (Santri Yadul ulya)

Bismillahirahmaanirahim

Alhamdulillah pada hari Jum’at 18 oktober 2019, para guru di Pesantren Yadul Ulya mengikuti program Diklatsar Guru Kuttab Yadul ‘Ulya berkolaborasi dengan DT Peduli Garut. Kegiatan awal dimulai dengan Upacara Pembukaan yang dilaksanakan di Lapangan pesantren Yadul Ulya Garut.

Upacara pembukaan diikuti oleh para peserta dan Panitia Diklatsar yang dilaksanakan sebelum keberangkatan menjuju lokasi Diklat. Sedikitnya Pelatihan Diklatsar diikuti oleh 31 peserta yang mana Pelaksanaan Diklatsar dilaksanakan selama tiga Hari 18-20 Oktober 2019.

Ketika pelaksanaan Upcara telah Pimpinan Ponpes Yadul ‘Ulya M. Angga Tirta menargetkan “setiap seluruh peserta memiliki keterampilan dan teknik yang tak membahayakan tim penolongnya sendiri Maupun korbannya, sehingga mereka menjadi Santri yang baik dan Tangguh dalam menghadapi bencana.”

Selama kegiatan diklatsar seluruh peserta diberikan pelatihan-pelatihan sebagai bekal terutama karakter yang harus dimiliki adalah berkarakter Baik dan Tangguh, memiliki disiplin tinggi, memiliki solidaritas yang kuat serta meningkatkan kualitas Adab dan Budi pekerti insan bertakwa.

Kegiatan awal seluruh peserta setelah melaksanakan Upacara melakukan longmarch menuju lokasi Diklatsar cibereum, dari keberangkatan dan tiba dilokasi kurang llebih pukul 15.45 setiba di lokasi para peserta mengikuti kegiatan longmarch, menyimak Tausyiah dan kegiatan-kegiatan lain yang telah disiapkan untuk memenuhi kebutuhan peserta.

Pada hari kedua 19 Oktober 2019 peserta dikumpulkan di lokasi Diklatsar dalam pelatihan Baris Berbaris dan dilatih untuk bisa memanfaatkan waktu serta disiplin. Setiap kelompok di uji untuk menampilkan latihan PBBAB di hadapan peserta Lainnya sekaligus di awasi bagaimana hasil dari latihan PBBAB yang telah dilaksanakan.

Pada sore harinya setelah melaksanakan sholat Magribh seluruh peserta mengikuti kegiatan Tausyiah dan Muraja’ah. Serta ditutup dengan penggalian Hikmah dari awal kegiatan dimulai Sampai akhir. Dan begitu beragam sekali hikmah yang didapat mulai dari meningkatakat kualitas keimanan, pengamalan iman dan lainya.

Seluruh anggota mulai dari pelatih, relawan, panitia dan partisipan yang lainnya berkoordinasi bersana dengan kesabaran dan kerja keras menyukseskan setiap tahapan proses dan Pelatihan tersebut. Dan melahirkan karakter Guru yang BAIK (jujur, Ikhlas, tawadhu) serta KUAT (Berani Disiplin dan tangguh).

Pimpinan Ponpes yadul ‘Ulya panawuan Garut mengingatkan, guru yang paling baik tak hanya bisa ‘memberi’ contoh keteladanan. Melainkan harus berkemampuan ‘menjadi’ teladan bagi seluruh peserta didiknya. “Bina dan didiklah mereka seperti mendidik anak kita sendiri, siapapun dan dari latar belakang sosial mereka, mereka merupakan amanah mulia yang harus kita jaga”. Imbuh ketua pimpinan Ponpes Modern Yadul ‘Ulya Garut ketika menutup Diklatsar tersebut. Ahad (20/10/2019), di Bumi perkemahan cibereum.

Diakhir kegiatan sebagai rangkaian penutupan seluruh Sanri Yadul ‘Ulya mendatangi lokasi Diklatsar di Perkemahan Cibereum. Sebagai bentuk kesiapan dan berharap penuh agar mereka bisa kembali mendapatkan ilmu dari gurunya di Ponpes.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Mengenali Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Dan Keistimewaan Seorang Santri

Mengenali Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Dan Keistimewaan Seorang Santri

Oleh : Santri Yadul Ulya

Bismillahirrahmanirrahim….

Assalamualaikum…

Tentunya hampir semua sudah mengetahui tentang istilah pesantren. Pesantren  ialah sebuah pendidikan tradisional yang siswanya tinggal bersama-sama disebuah pondok atau asrama dan belajar dibawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan Ustad/ustadz atau Kiai. Sedangkan istilah santri sendiri ialah sebuah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama islam di Pesantren .

Setelah mengetahui tentang istilah pondok pesantren dan santri, terus apa yang disebut Tahfidz Al-Qur’an? Bila belum mengetahui apa itu tahfidz, kita bahas sama-sama. Tahfidz yaitu artinya mengahafal, istilah tersebut berasal dari bahasa Arab hafidzaa – yahfadzu – hifdzan  yakni lawan kata dari lupa. Menurut Al-Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc. Al-Hafidz tahfidz ialah proses mengulang sesuatu baik dengan membaca atau mendengar.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tahfidz Al-Qur’an adalah sebuah proses mengafal dan mengulang ayat-ayat Al-Qur’an baik dengan mendengar ataupun mendengar.  Tentunya tidak sedikit dari kalian yang ingin menjadi seorang hafidz Al-Qur’an, sebab seorang hafidz Al-Qur’an mempunyai keistimewaan yakni salah satunya nanti di akhirat seorang pengahafal Al-Qur’an akan memasangkan mahkota untuk orang tuannya  disurga, selain itu masih banyak keistimewaan lainnya.

Sebagaimana dalam Hadist Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam :

وَإِنَّ الْقُرْآنَ يَلْقَى صَاحِبَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يَنْشَقُّ عَنْهُ قَبْرُهُ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ فَيَقُولُ لَهُ هَلْ تَعْرِفُنِي ؟ فَيَقُولُ مَا أَعْرِفُكَ فَيَقُولُ لَهُ هَلْ تَعْرِفُنِي ؟ فَيَقُولُ مَا أَعْرِفُكَ فَيَقُولُ : أَنَا صَاحِبُكَ الْقُرْآنُ الَّذِي أَظْمَأْتُكَ فِي الْهَوَاجِرِ وَأَسْهَرْتُ لَيْلَكَ وَإِنَّ كُلَّ تَاجِرٍ مِنْ وَرَاءِ تِجَارَتِهِ وَإِنَّكَ الْيَوْمَ مِنْ وَرَاءِ كُلِّ تِجَارَةٍ . فَيُعْطَى الْمُلْكَ بِيَمِينِهِ وَالْخُلْدَ بِشِمَالِهِ ، وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ ، وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لَا يُقَوَّمُ لَهُمَا أَهْلُ الدُّنْيَا فَيَقُولَانِ : بِمَ كُسِينَا هَذِهِ ؟ فَيُقَالُ بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ

Artinya:

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an akan menjumpai pemiliknya pada hari kiamat pada saat kuburannya terbelah sebagaimana lelaki yang kurus dan pucat ia mengatakan kepadanya apakah engkau mengenalku? Lalu dia menjawab aku tidak mengenalmu, ia bertanya kembali apakah engkau mengenalku? Ia menjawab aku tidak mengenalmu, lalu ia berkata: “Aku adalah sahabatmu Al-Qur’an yang telah menghilangkan dahagamu pada saat siang hari yang sangat terik, yang telah membuatmu begadang di malam hari, dan setiap pedagang akan berada di belakang perniagaannya dan engkau sekarang pada hari ini di belakang semua perniagaan. Lalu diberikanlah kerajaan di tangan kanannya dan keabadian di tangan kirinya, dan disematkan di atas kepalanya mahkota yang megah, dan dipakaikan bagi kedua orangtuanya pakaian yang sama sekali tidak pernah dikenakan oleh penduduk dunia, lalu keduanya berkata: Mengapa kami diberikan pakaian semacam ini? maka dikatakan kepada keduanya: semua ini karena anak kalian menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabatnya saat di dunia.” [Silsilah Ash-Shahihah 2829]

Tidak sedikit orang tua yang ingin seorang anak menjadi seorang hafidz Al-Qur’an. Sebab penghafal Al-Qur’an ini mempunyai keunggulan khusus yang dibanding yang lain disisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi perlu diperhatikan juga menghafal Al-Qur’an tidak semudah memabalikan telapak tangan, perlu ketekunan, keistikomahan dan lain sebagainya dan yang paling penting yaitu tujuan menghafal Al-Qur’an itu supaya menambah ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Setelah membahas sedikit tentang keistimeaan seorang penghafal Al-Qur,an, saya akan membahas tentang Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an. Apa saja yang dipelajari selain Al-Qur’an, terus bagaimana proses belajarnya? Saya akan membahas satu persatu.

 

Mengenali Pondok Pesantren Tahfidz

Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an ialah sebuah yayasan yang didalamnya secara garis besar untuk belajar menghafal Al-Qur’an dan tentunya pembelajarannya lebih ke Al-Qur’an. Untuk itu tahu lebih lanjut tentang kegiatan ponpes tahfidz, saya telah mengamati salah satu pesantren tahfidz di Kab.Garut yaitu Pondok Pesantren Yadul Ulya.

Pondok Pesantren Yadul Ulya dibangun sejak bulan April 2018 dan memulai kegiatan pembelajaran yakni pada tanggal 01 januari 2019. Pondok pesantren ini merupakan pesantren tahfidz dan bisnis online untuk yatim atau duafa gratis di Garut Jawa Barat yang didirikan oleh Bapak Muhamad Angga Tirta Widya Prihandani selaku Pendiri sekaligus ketua Pembina Yayasan Tahfidz Garut. Pesantren ini berada di Kp. Panawuan Des.Sukajaya Kec. Tarogong Kidul Kab. Garut.

Nah, untuk mengetahui lebih lanjut tentang kegiatan pesantren Yadul Ulya , saya telah menulusri beberapa program pesantren ini antara lain kutab, madrasah, digital, kauni dan akdemi guru. Saya hanya akan menjelaskan  program madrasah.

Dalam kegiatan ponpes tahfidz ini itu ada Murojaah Al-Qur’an, Jiyadah, dan Tasmi bulanan.Untuk kegiatannya madrasah dan akdemi guru itu sama, memulai dari jam  3 pagi sudah bangun untuk tahajud berjamaah, dan dilanjut untuk murajaah sampai adzan shubuh. Setelah melaksanakan shalat itu ada dzikir berjamaah. Secara singkat kegiatan santri madrasah dari 03:00 sd 20:30.

Selepas sholat shubuh dan dzikir bersama, santri memulai jiyadah dan storan ayat pada ustadnya. Waktu jiyadah itu berlangsung sampaui 06:30. Kemudian ada istirahat sampai jam 08:00, dan waktu itu dipergunakan untuk jadwal piket beres-beres , masndi  dan juga untuk sarapan.

Setelah itu dari jam 08:00 – 10:00 digunakan untuk murajaah hafalan, kemudian setelah itu istrahat 10 menit. Dari 10:10 dilanjut sampai 30 menit ke adzan dzuhur, dengan pelajaran tambahan yakni dengan hadist atau bahasa arab dan pelajaran lainnya.Kemdian setelah itu santri siap-siap untuk kemesjid untuk shalat dzuhur berjamaah.

Kemudian setelah shalat dzuhur waktunya makan siang para santri dan waktu istirahat sampai 14:00. Setelah itu mulai lagi belajar bahasa arab sampai ashar, seperti biasa santri shalat berjamaah di masjid, setelah selesai shalat santri dzikir bersama dan disambung dengan jiyadah sampai magrib, seperti biasa santri melakukan shalat berjama.

Nah, selepas magrib santri bersiap siap untuk makan dan juga istirahat sampai adzan isya kemudian setelah melaksanakan shalat isya berjamaah santri melanjutkan pembelajaran jiyadah sampai 20:30. Mungkin itu gambaran singkatnya tentang kegiatan santri tahfidz madrasah. Setelah mengetahui tentang kegiatan santri tahfidz kini saya akan membahas tentang keistimewaan seorang santri.

Keistimewaan Seorang Santri

Pengertian Istilah Santri secara umum ialah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama islam di pesantren, yang biasanya mondok atau menetap dipesantren tersebut sampai pendidikannya selesai.  Seorang santri tentunya memiliki banyak keutamaan apalagi menjalankan rutinitasnya dengan niat karena Allah Subhanahu wa ta’ala semata.

Seorang santi juga biasanya sangat ditunggu masyrakat untuk terjun langsung kemasyarakat dalam menyampaikan ilmu-ilmu yang diperoleh saat dipesantren. Terlepas dari itu, seorang santi juga sangat diperhatikan dalam tingkah laku atau adab nya sepulang dari pesantren. Seperti yang tadi sudah dijelaskan bahwa  kebanyakan pesantren menggunakan konsep “Belajar adab sebelum ilmu” , oleh karena itu biasanya yang pertama dilihat oleh masyarakat itu adab nya dahulu.

 

Oleh karena itu betapa pentingnya kita mempelajari sebuah adab sebelum ilmu. Bahkan para ulama salaf sangat perhatian sekai terhadap masalah adab dan juga ahlak.  Sebelum membahas tentang keistimewaan seorang santri , ada yang perlu diperhartikan khususnya untuk para santri dan umumnya untuk kita semua sebagai umat islam bahwasanya belajar adab sebelum ilmu itu sangat penting.

Dari Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahumahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy.

                              تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

 

“Pelajari adab sebelum mempelajari suatu ilmu”

 

Mengapa para ulama mendahulukan adab dibanding ilmu? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata:

                                       بالأدب تفهم العلم

 

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Nah, dapat disimpulkan bahwa untuk meraih atau menuntut ilmu untuk itu perlu bejajar adab terlebih dahulu, sehingga ilmu yang dipelajari mudah dicapai atau diraih.

 

         Setelah membahas tentang  pentingnya adab bagi seorang santi, kini kita akan membahas tentang beberapa keistimewaan sebagai seorang santri. Seorang santri memiliki banyak keutamaan sebab lebih sering dan berusaha mendalami ilmu dan terlatih untuk beribadah tepat waktu, apalagi bila rutinitas tersebut semata-mata karena Allah  Subhana hu wa taala. Berikut beberapa keistimewaan seorang santri.

  1. Derajatnya lebih tinggi

Sebagaimana dalam Al-Qur’an surat Al-,Mujadilah ayat 11, yang artinya:

“Niscaya Allah akan meninggikan orang yang beriman dan orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS Al-,Mujadilah : 11)

Dapat disimpuilkan  dari ayat tersebut bahwa, seorang santri yang menuntut ilmu karena Allah mendapat derajat yang lebih tinggi dimata Allah apabila ilmu tersebut dicari dan dipergunakan dengan niat karena Allah semata.

  1. Mendapat kebaiakan di akhirat

Sebagaimana dalam Hadist dijelaskan:

“Barang siapa dikehendaki Allah dengan kebaikan dunia dan akherat maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama”. (HR Bukhari).

Nah, dari hadist tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang santri yang mampu memahami ilmu agama islama akan dikehendaki Allah untuk nya kebaikan dunia dan akherat.

  1. Jalan Menuju Surga

“Barang siapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya dengan hal itu Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR Abu Dawud).

Dari hadist tersebut dapat dijelaskan bahwa, menuntut ilmu sebagaimana yang dilakukan oleh seorang santri  akan mempermudah jalannya menuju surga , sebab selama hidupnya dipergunakan untuk urusan hyang bermanfaat yang selalu mendekatkan dirinya pada agama islam.

  1. Dosa-dosanya diampuni

“Dan sesungguhnya penghuni langit dan di bumi, sampai ikan ikan di lautpun memohonkan ampun untuk orang orang yang berilmu”. (HR Tirmidzi).

Tentunya setiap manusia tidak ada yang sempurna, pasti pernah berbuat kesalahan termasuk para santri, akan tetapi para santri menutup kesalahan tersebut dengan segala kegiatan yang berpahala seperti menuntut ilmu sehingga mendapat ampunan dari dosa-dosanya, sebagaimana dalam hadist diatas dijelaskan.

Itulah beberapa keistimewaan seorang santri, sebenarnya masih banyak, akan tetapi saya mengambil beberapa saja.

Demikianlah artikel tentang pondok pesantren tahfidz dan keutamaan seorang santri.

Wassalamulaikum…

RESOLUSI JIHAD SANTRI DI ERA MILENIAL

RESOLUSI JIHAD SANTRI DI ERA MILENIAL

oleh ; Santri Yadul Ulya

Assalamu’alaikum,,

Bissmillahirrahmaanirrahiim…

 Seperti yang telah diketahui bahwa Hari Santri yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober yang telah ditetapkan oleh Presiden RI, Joko Widodo, melalui Kepres Nomor 22 Tahun 2015.

 Tanggal 22 Oktober tersebut merujuk pada peristiwa dikeluarkannya Resolusi Jihad. Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari, pada tanggal 22 Oktober 1945 mengumumkan fatwanya yang kemudian dikenal sebagai Resolusi Jihad yang memuat seruan bahwa setiap Muslim wajib memerangi penjajah. Sehingga pejuang yang gugur dalam peperangan melawan penjajah pun dianggap mati syahid.

 Jihad ini dikeluarkan seiring dengan kembalinya tentara kolonial belanda yang mengatasnamakan NICA ke Indonesia yang baru merdeka beberapa bulan.

 Jihad ini membakar semangat para santri dan arek-arek Surabaya yang kemudian memicu terjadinya peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang kemudian juga diperingati sebagai Hari Pahlawan. Sehingga pada saat itu pula banyak santri yang gugur dalam perang melawan penjajah.

Namun, seiringnya berjalannya waktu perubahan mulai terjadi. Sehingga, tantangan buat santri sekarang adalah bukan lagi resolusi melawan penjajah namun yang lainnya. Kalau dulu resolusi jihad santri melawan penjajah, maka sekarang resolusi jihad harus kekinian. Apa itu? Jihad melawan terorisme, radikalisme, melawan kebodohan, kebencian, pornografi, narkotika dan lain sebagainya.

         Kapsitas sosial santri sungguh luar biasa yang senantiasa menyatukan diri secara intergal bersama masyarakat, memiliki basis dan jejaring sosial yang sungguh dahsyat. Potensi yang dimiliki oleh santri selama ini dinilai masih belum termanfaatkan dengan baik dalam membangun bangsa. Padahal santri adalah generasi pilihan masyarakat yang diharapkan mampu berbuat sesuatu untuk memperbaiki generasi bangsa.

         Santri harus terus mengembangkan diri untuk meneruskan perjuangan pahlawan terdahulu. Perlu dipikirkan bagaimana ulama dahulu menciptakan santri agar memiliki kemampuan yang hebat dalam menghadapi perkembangan zaman dan dapat berkiprah dalam wilayah wilayah sosial, ekonomi, politik maupun pertahanan negara.

         Santri bukan hanya bisa menguasai kitab kuning saja tapi juga bisa memberikan warna tersendiri khususnya dijaman milenial ini. Santri meski mempunyai keahlian dalam bidang kedokteran, kimia, nuklir, dan lain-lainnya sehingga santri bisa  mandiri tidak tergantung oleh politik-politik yahudi yang sekarang lagi menyebar.

         Di era millenial, santri wajib melakukan jihad jihad kekinian di zaman yang kacau seperti sekarang ini. Santri harus menjadi generasi yang toleran dalam dunia maya. Santri adalah pasukan terdepan untuk mendakwahkan islam yang damai bukan ramai dan rusuh. Santri pula harus menjadi pelopor barisan paling depan dalam perdamaian, persatuan dan ketertiban. Bukan menjadi penyebab kerusuhan, permusuhan dan lain-lainnya.

         Santri di era millenial ini harus berguna dan serbabisa. Santri tidak boleh ketiggalan zaman. Santri harus berpikir kedepan bagaimana bisa mempertahankan kedamain, menyebarkan islam di era millenial ini. Santri harus menjadi pelaku sejarah baru untuk generasi selanjutnya bukan menjadi penyebab kehancuran dunia. Santri juga hasus menjadi peran sebagai generasi perubahan sosial demi kemaslahatan umat, bukan hanya sekedar pendorong namun harus manjadi contoh untuk segalanya.

Tantangan dan Peran Santri di Era Milineal

Tantangan dan Peran Santri di Era Milineal

Oleh: Hapidin

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Santri merupakan istilah bagi sekelompok orang yang sedang menempuh pendidikan selama di pesantren khususnya mempelajari kitab-kitab agama Islam di lembaga pendidikan yang dikenal dengan pesantren biasanya sebelum mempelajari keilmuan mereka dilatih dari segi karakter atau akhlak, kemudian ditanamkan keimanan dan barulah mendalami ilmu-ilmu khususnya agama islam.

Perananan santri begitu besar bagi kemerdekaan Indonesia, perjuangan mereka mampu melepaskan indonesia dari para negara kolonial Belanda. Karena bangsa ini mayoritas beragama islam, sangat wajar jika umat islam, khususnya para santri melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda yang telah menguras kekayaan bumi Nusantara.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro yang notebene berasal dari kaum santri, berani memandu perang melawan imperialis Balanda, yang sudah menjajah bangsa ini selama ratusan tahun. Pasukan Pangeran Diponegoro ini adalah para santri Kyai Maja. Kyai Maja tidak hanya menggerakkan dan melatih santri di pesantrennya, tapi juga di berbagai pesantren lainnya untuk melawan kolonialisme Belanda.

Perjuangan dan pengorbanan mereka sangatlah besar sehingga atas pertolongan dari Yang MahaPenolong, hingga pada akhirnya kemerdekaan indonesia bisa di raih.

Kini santri merupakan sosok yang diharapkan oleh masyarakat sekitarnya khususnya dan sebagai agen perubahan agen of change  terutama dalam kemajuan moral dan intelektual masyarakat.

Terbukti bahwa, Banyak sekali ilmuan-ilmuan terlahir dari kalangan santri diantara yang termasyhur karena penemuannya yang istimewa. Ilmu kedokteran yaitu Ibnu sina, ilmu matimatika penemuan al-khowarijm, al-jabar dan masih banyak lagi.

Seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi, santri tidak cukup jika hanya menguasai bidang keagamaan saja melainkan harus bisa menjadi generasi yang intelek, tangguh dan kuat untuk memberantas segala berbagai tindak kejahatan ataupun kecurangan yang kini kian bermunculan khususnya di Indonesia. Mulai dari lingkungan masyarakat sosial, perekonomian, dan politik agar kemerdekaan indonesia terjaga.

Kemerdekaan Bangsa ini, memang tidak bisa lepas dari peranan penting para ulama dan santri, Tercatat banyak santri dan ulama telah mengorbankan tenaga dan pikiran untuk mengusir penjajah dari bumi nusantara.

Penjajahan di era milenial ini tidak hanya lagi bersifat fisik, melainkan penjajahan paham-paham barat yang bertujuan untuk memecah belah umat dan mengahancurkan kerukunan dalam berbangsa dan bernegara. Hal ini berhubungan dengan kemajuan dan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Maka,

Seorang santri harus bisa melakukan perubahan perubahan, kemampuan beradaptasi dan ikut serta mengawal ke-indonesia-an, dan terlibat memerangi gerakan-gerakan trans nasional yang mengancam ideologi negara, tidak berhenti disitu, santri dituntut untuk memiliki intelektual yang luas, yang bisa menggabungkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Hal itu merupakan tantangan baru bagi kaum santri yang dulunya santri mempunyai tantangan melawan kolonial Belanda, tetapi sekarang tantangan santri sudah semakin kompleks, santri harus bisa mempersiapkan melawam penjajah yang sudah berbeda bentuk dari zaman dulu.1

Di era sekarang tantangan santri sangat berbeda, dengan kemajuan zaman dan perkembangan  globalisasi. Di samping menekuni kajian keagamaan yang sangat kental, seperti kajian kitab kuning, moral, tata krama, tawadhu’ kepada masayikh, santri harus mengimbanginya dengan kemampuan intelektualnya. Yaitu dengan mengkolaborasikan pendidikan agama dengan pendidikan umum. Karenanya, jika santri hanya mengandalkan ilmu din (ilmu agama), akan sulit untuk bersaing di era globalisasi.

Era milineal lebih berkiblat kepada kehidupan barat, sangat bertolak belakang dengan kehidupan di kalangan pesantren yang fokus garapannya di bidang spiritual, itulah menjadi tugas dan tantangan santri dalam menjalani kehidupan beragama berbangsa dan bernegara.

Tantangan dalam bernegara mulai ramai di dengungkan mengenai paham-paham yang  bercorak islam-radikalisme dengan membawa visi untuk mengubah dasar negara menjadi ideologi yang murni dari Islam. Dasar negara yang sudah menjadi kesepakatan semua warga negara (pancasila) di anggapnya  tidak relevan lagi dibuat sebagai landasan bernegara. apalagi mereka (paham radikalisme) menganggap sudah waktunya negara yang mayoritas menganut agama islam, maka seyogyanya harus menggunakan islam sebagai landasan bernegara.

Menjadi santri era milineal memang berat, kalau santri zaman old, hanya berbekal ta’dzim kepada kiainya, mereka banyak menjadi “orang”. “Mestinya kita berkaca kepada santri jaman ‘old’. Akhlak adalah hal paling utama dalam segala hal. Setelah itu barulah berilmu, dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya”.2

Maka, sebagai santri tidak hanya memberikan nasihat kepada orang lain dan tidak menjalankannya. Nasihat itu lah yang mesti diterapkan terlebih dahulu kepada diri pribadi. Ini lah sebuah tantangan bagi santri.

Seorang politikus Muhaimin Iskandar  mengutarakan bahwa “sudah saatnya Santri memimpin kemajuan dalam bernegara”.2 Dalam merefleksikan hari santri  pemerintah menetapkan untuk meperingati setiap tahun pada tanggal 22 Oktober, sebagai Hari Santri Nasional. Pertanyaannya sudahkah seseorang yang menganggap dirinya Santri mengamalkan tantangan yang berada didalam kehidupan sehari-hari?

Akhir kata Irfai Moeslim, khodim Ma’had Asrarur Rafiah Babakan berpendapat,

“Rasanya, sebagai santri yang intelek, intelek yang santri mesti harus membawa perubahan itu di dalam masyarakat, sedikit demi sedikit dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, yang bisa dijadikan panutan, karena menasehati dengan perilaku sendiri rasanya lebih ampuh dan meresap di dalam hati seseorang, ketimbang hanya menasehati tetapi hanya sebatas hanya di mulut dan kerongkongan belaka”.2